Hai......

Temukan rasamu di balik cerita masa lalu...

Selasa, 28 September 2010

Lembaran Baru

-Dia-
kau tak tau aku mencintaimu sejak lama.
bahkan saat dia masih ada dalam hatimu.
kau tak tau itu, dan aku enggan untuk menyampaikan rasa itu.

kau sempat nyata dalam benakku.
suaramu sempat terlantunkan dalam kisahku.
saat itu hatimu sedang tertorehkan luka karenanya.
saat itu, aku bertatih tuk sembuhkan lukamu.
berharap aku punya daya untuk itu!

tapi, makin hari kau tak ada kabar.
kau menghilang dari peredaran mataku.
cintaku mencari hatimu.
tulus.
aku baru saja ingin memberitahumu sesuatu.
sesuatu yang sudah lama ingin melabuhkan cintamu dalam jiwaku.

kau menghilang.
kurasakan hampa.

kini aku menemukanmu.
tepatnya, kau yang membawaku ke pertemuan kita kembali.
syukurlah kau masih mengingatku.
cintaku hampir saja mati karena lelah mencarimu.

sekarang, kau kembali nyata dalam benakku.
suaramu kembali terngiang dalam kisahku.
aku ingin kau jadi milikku.
aku tak akan pernah melepasmu lagi.
tak akan ku sia-siakan dirimu.

aku mencintaimu. sungguh.

-aku-
kau katakan segalanya padaku.
rasamu. tentang dulu kau mencariku.
entahlah.
sejenak ku pikir kau tak perlu jawaban dariku.
kau pun tak pernah bertanya padaku.
hingga aku terbiasa dengan suaramu. perhatianmu. dan mungkin cintamu.
dan aku merasa nyaman dengan keberadaanmu.

sejak itu, kau semakin sering mengusik pikiranku.
hatiku mulai terusik olehmu.
bahkan aku menanti namamu muncul di layar handphone-ku.
mendengar candamu.
kau tau, sejenak aku berharap detik jam terhenti saat itu agar aku bisa berlama-lama denganmu.
entahlah.

aku melarang hatiku jatuh cinta.
karena aku tau, apa yang kurasa saat ini mungkin sama dengan apa yang kau rasakan padaku.
entah itu aku harus bahagia.
aku bingung.
aku hanya takut tersakiti lagi.

tapi, malam ini..
kau membuat semuanya jelas dengan sendirinya.
ku harap kau tak mendustaiku.
i hope u'll be the last for me.
22.38

Jumat, 24 September 2010

Rasa. Indah. Pilu.

Di saat ada rasa yang meronta tuk dibebaskan dari jeratan ketidakberdayaan.
Melahirkan sebuah sandiwara yang memilukan.

Ada cinta di sana.
tapi, tak ada yang menghampiri.
hanya menunggu mati, dengan sedikit harapan dari hari-hari yang berlalu bersamanya.

Ada rasa yang meminta untuk tersampaikan kawan..
begitu indah, tapi tak seorang pun bergeming memperhatikan.
Raga terdiam. menyembunyikan rontaan jiwa. berpura-pura tak memperhatikan, tapi selalu tau apa yang sedang ia lakukan.

Sebuah sandiwara yang memilukan.
kepura-puraan yang tak kunjung berucap pamit padaku.

Menjadikan setiap mozaik hidupku seperti kepingan asa...
melangkah, terlelap.
dan melangkah lagi.
tanpa ada arti.

menjadikan aku sebuah kaleng kosong tanpanya.

Aku, sebagai rasa yang tak sampai padanya.

Sabtu, 18 September 2010

tak seharusnya

Dia mendekat.
dan aku tak suka itu.
Dia pria beristri.
Dan tidak hanya itu masalahnya.
Aku bisa dibilang anaknya.
Aku keponakannya.

Dulu tak seperti itu.
Entah kenapa.
Aku salah sangka.
ternyata ia berbeda sekali dengan tampilan luarnya.
cara bicaranya yang halus.
caranya menanggapi sesuatu.
Ia kelihatan cerdas dan bijaksana.
Aku bahkan sempat memuji sosoknya.
Dan menceritakan kekagumanku itu pada seorang sahabat.

sungguh, aku mengira dia baik.
ramah. setiap kali aku melihatnya pasti senyum.

Tapi, semenjak insiden itu.
setiap kali ia senyum.
Q balas dengan enggan yang tak nampak.
Kini, senyum itu seakan bermaksud menggodaku.

Aku berusaha menghindar.
Sampai ia kembali normal.

Karena, sejak itu.
setiap ia mendekat.
aku selalu berprasangka buruk.
meski pada akhirnya tak terjadi apa-apa.
tak dapat kupungkiri, ada rasa takut yang berkelebat.

mungkin dia anggap itu biasa.
mungkin ia tak bermaksud apa-apa.
tapi, tetap saja. aku gak suka.

Jumat, 17 September 2010

I win.

Dia mengirimiku SMS.
tak membuang waktu.
tak berbelit-belit lagi.
tanpa basa-basi.

dia akhirnya mengakui kemenanganku.
mendeklarasikan kekalahannya.
menggelegarkan tawaku.
meski tak melihat raganya bersimpuh di hadapanku.
cukup hatinya.
cukup itu saja yang membuatku puas.

tapi, pada sampai titik dia bertanya padaku.
"masih adakah rasa itu? cintamu padaku?"

membuatku sejenak lupa pada egoku.
pada pertempuran yang saya buat di hari perpisahan itu.
pertempuran yang aku yakini akan mencetuskanku sebagai pemenang!
dan yah, itu benar!
akulah pemenangnya.

tapi, apakah aku sudah seutuhnya menang?
ku tanya hatiku!
dia tak lagi peduli padanya.
dia sudah merelakannya meski sudah ada yang lain.
dia tak lagi menangisinya di kala mengingat perpisahan itu...
dia malah mencemooh.
"tak ada lagi rasa untuknya."
hatiku berdalih.

ku klik 'reply'.
"maaf, aku sudah melupakanmu!"
'send'.